Sosok Wanita Sederhana Ternyata Istri Sah Sutiaji

0
3568

MALANG,sigap88-Sekilas mungkin banyak yang tak mengenal nama Endang Taqiyati. Namun bagi yang pernah berkunjung ke kantin Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki), Malang, Jawa Timur, nama Endang bukanlah sosok yang asing.

Ia pemilik kantin El-Salwa. Pelanggannya mahasiswi UIN Maliki semester 1 yang diwajibkan mondok selama satu tahun. Kantin milik Endang tak ubahnya seperti warung-warung sederhana lainnya. Mejanya terbuat dari kayu biasa, namun model layanannya seperti prasmanan, di mana mahasiswi mengambil sendiri makanannya. Lantas apa kelebihan Endang?

Endang sebenarnya tidak perlu bekerja keras untuk melayani para pembeli di kantin itu. Jabatan suami Endang, Sutiaji, memungkinkan perempuan ini bisa hidup dengan layak tanpa harus mengeluarkan keringat. Sutiaji adalah wakil wali kota pasangan dari Abah Anton, wali kota malang terpilih masa pengabdian 2013-2018.

Alih-alih berada di ruangan dan mobil yang dilengkapi pendingin, Endang memilih mengelap peluh sembari membantu lima pegawainya di kantin. Dia lebih suka mondar-mandir memenuhi pesanan, membungkus makanan, dan bercengkerama dengan para pembelinya.

Endang menceritakan dirinya mulai berjualan nasi di kantin asrama putri sejak tahun 2007. Kala itu sang suami, Sutiaji masih belum menjadi anggota DPRD kota Malang atau masih berprofesi sebagai Mubaligh. “Bapak itu baru menjadi anggota dewan tahun 2009,” katanya.

Awal karir Endang di bidang kuliner ini dimulai saat ditawari oleh salah seorang senior di UIN bernama K.H Chamzawi untuk berjualan di kantin. Kedekatan antara dirinya dan Sutiaji dengan K.H Chamzawi terjadi karena keduanya alumni di UIN Malang.

Ketika itu, kata Endang, masih ada satu stan kantin yang belum digunakan. Dirinya ikut `bersaing` dengan sekitar 200 orang juga berminat untuk mengisi stan tersebut. “Alhamdulillah akhirnya saya yang dipercaya oleh kampus untuk berjualan disini. Sistemnya kontrak pertahun disini Rp 16 Juta,” kenang Endang.

Wanita kelahiran tahun 1965 ini mengaku memulai aktifitasnya setiap hari untuk berjualan pada pukul 02.30 WIB. Dengan dibantu lima orang asistennya,  Endang mulai menyiapkan dan memasak bahan makanan sehingga menjadi makanan yang siap dijual. Aktifitas tersebut diakhiri dengan Shalat Subuh.

Usai sholat, Endang pun mulai membuka warungnya. Banyak mahasiswi yang mencari makan. Bahkan Endang pun melayani para mahasiswi yang makanannya dibungkus. “Ramainya pagi dan siang. Saya malah bungkusnya harus cepat, dan sering kurang rapi,” sambung Endang kemudian tertawa.

Waktu Jadi Anggota Dewan Bapak Itu Sering Makan Di Warung Sederhana Ini 

“Waktu bapak jadi anggota dewan dulu setiap hari kalau sarapan di sini,” tambah perempuan asal Pasuruan, Jawa Timur ini.

Endang juga bercerita, jabatan suaminya tidak akan mempengaruhi pribadi dan kegiatannya. Bahkan Endang menuturkan, Sutiaji tidak menuntut dirinya menjadi istreri pejabat yang harus tampil perlente. “Saya dan suami menganggap jabatan dan harta hanya amanah dan sementara, tidak dibawa mati. Bapak juga tidak menuntut saya harus begini atau begitu. Saya apa adanya saja,”

Beberapa kali Endang bertanya kepada Sutiaji apakah tidak menurunkan status bila seorang istri wakil walikota berjualan nasi di kantin. “Beliau sering jawabnya gak ada yang perlu berubah dari kita. Bapak gak merasa diremehkan dengan profesi saya seperti ini,” ungkap Endang.

Ia memulai hidup mandiri saat dirinya menimba ilmu di perguruan tinggi walau kedua orang tua Endang bisa dibilang dari keluarga berada. Kebiasaan hidup mandiri dan sederhana inilah yang membuat Endang masih betah berjualan nasi walaupun sekarang ia menjabat sebagai wakil ketua tim penggerak PKK kota Malang “Saya hidup seperti ini sudah merasa kaya, buat apa harta berlimpah, nanti kalau meninggal juga tidak di bawa, itu prinsip saya,” ucapnya.

Meski menyandang predikat sebagai istri N-2 Malang, Endang sehari-hari untuk bepergian tetap memilih menggunakan sepeda motornya, dan tidak menggunakan fasilitas negara seperti mobil dinas. “Malah bapak sering saya ingatkan, kalau isi pengajian atau diluar jam dinas mohon tidak menggunakan mobil dinas,” katanya.

Pribadi Endang yang apa adanya dan tidak memandang hal duniawi ini karena Endang tergugah dengan Sy’ir Tanpo Wathon milik Gus Dur. Endang menerangkan, hidup manusia itu harus ikhlas, dan jangan memandang rendah orang lain, apalagi membanggakan jabatan dan harta. “Hidup ini ujungnya kematian, jabatan dan harta tidak ikut dibawa. Jadi saya mencoba memandang jabatan suami saya ini sebagai cara mencari ridho Allah SWT,” ucap ibu empat orang anak ini.

(Dikutip publicapos),Berkaitan dengan hari kartini. Sosok endang juga mendapat sanjungan dari Presiden Joko Widodo yang menyebut. “Salah satu contoh sosok Kartini sederhana namun luhur-mulia antara lain adalah Endang Taqiyyati, istri Wakil Walikota Malang, Jawa Timur. Perempuan berusia 52 tahun itu tetap bekerja keras berjualan makanan di kantin asrama mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Meski ia istri seorang pejabat, ia tetap belanja ke pasar naik sepeda motor sendiri dan memasak bermacam makanan untuk dijual di kantin asrama mahasiswa itu. Endang tetap sederhana dan bekerja keras karena ia tidak ingin menjadi penyebab suaminya melakukan tindak korupsi.” Rud_(bersambung.)

Komentar
Content Protection by DMCA.com