Royalti Pencipta Lagu Satu Bulan, Setara Rokok 2 Bungkus

100

Sampang, SIGAP88 – Banyaknya hasil karya cipta anak bangsa yang sangat luar biasa, ternyata berbanding terbalik dengan nasib yang harus mereka terima.

Begitu banyak pencipta-pencipta lagu yang di nyanyikan oleh penyanyi-penyanyi nasional dan menjadi hits, bahkan menjadi lagu sepanjang masa. (12/8/2018)

Namun hal ini terlihat berbeda dengan nasib hidup yang mereka jalani sampai saat ini.

Banyak dari mereka yang mengalami kesulitan ekonomi, bahkan tragisnya mereka sakit dan tidak mendapat campur tanggan dan bantuan dari pihak manapun, apalagi dari pemerintah bangsa ini.

Masih segar di ingatan kita kasus yang belum lama ini terjadi pada nasib keluarga dari artis sekaligus pencipta lagu (Deddy Dores).

Anaknya harus berjuang hidup sebagai kuli bangunan, untuk bisa memenuhi kebutuhan ibu dan adik-adiknya, bahkan satu acara reality show sampai mengikut sertakan keluarga ini dengan memberikan bantuan senilai 10 juta rupiah.

Selain kasus Deddy Dores, satu lagi nasib tragis juga di alami oleh pencipta lagu mengapa tiada maaf yang di nyanyikan oleh Yuni Shara, tragedi buah apel yang di nyanyikan oleh Anita Sarawak, warung Kopi oleh Titik Sandora dan Muchsin Alatas.

Dia adalah adalah Yessy Wenas, lelaki yang saat ini sudah berumur lanjut dan sedang terbaring sakit, juga tidak mendapat dukungan dari pihak manapun.

Team Sigap88.com, menghubungi Timur Priyono, salah satu pencinta lagu melalui sambungan telepon mengatakan, nasib para pencipta lagu-lagu di Indonesia ini nasibnya sangat tragis, kalau mau ambil royalti seperti orang mau ngambil beras jatah.

Sementara untuk kantor YKCI (Yayasan Karya Cipta Indonesia) ada di jl. Duta Mas Blok D.1 No.20 Jakarta selatan.

“Padahal uang yang mereka terima tidak seberapa, pertahun mereka menerima uang rata-rata hanya 400 ribu rupiah, jangankan untuk hidup layak, untuk makan sehari-hari saja tidak cukup,” kata dia.

Apalagi saat ini banyak teman-teman pencipta lagu yang kondisinya sangat memprihatinkan, selain hidup dalam kemiskinan, mereka juga sakit dan tidak punya biaya untuk berobat.

Padahal aturan pemerintah jelas, pada UU Hak Cipta No.28 tahun 2014, tapi sejauh mana keberpihakannya terhadap pemilik hak cipta, khususnya untuk pencipta lagu ?

Saya punya keinginan bertemu bapak presiden untuk menyampaikan masalah ini pada beliau, mungkin waktunya saja yang belum bisa.

Sebenarnya kewajiban pembayaran royalti lagu itu di kumpulkan dari banyak tempat, seperti transportasi umum.

Selain itu juga dari tempat-tempat karaoke, tayangan-tayang musik di televisi yang kalau di hitung jumlahnya sangat fantastis.

Untuk tayangan live di televisi per tahunnya mencapai 5 milyard rupiah per satu televisi Nasional.
Tinggal menghitung berapa televisi Nasional yang ada di Indonesia.

Belum lagi dari tempat-tempat karaoke, kami mensurve ada sekitar 43 ribu lebih tempat karaoke di seluruh Indonesia, dengan hitungan royalti lagu sebesar 12 ribu, per hari, per room.

Dari situ jumlahnya sangat luar biasa , tetapi faktanya YKCI sebagai lembaga, tidak pernah transparan tentang keuangan yang masuk dan keluar, sehingga pada akhirnya nasib tragis harus di terima pencipta lagu.

Saya ingin menyampaikan hal ini pada pemerintah, agar lembaga YKCI di tinjau kembali keberadaanya dan bila perlu sekalian di bubarkan dan di ganti dengan lembaga baru yang lebih kapabel dan mampu bekerja dengan baik dan benar.

Sedangkan untuk membantu kondisi kawan-kawan pencipta lagu yang saat ini sedang sakit dan terpuruk, serta tidak ada yang memperhatikan terutama pemerintah, kami melakukan konser.

“kami para seniman-seniman pencipta lagu, akan bergerak sendiri secara bersama untuk mengelar konser amal pada tanggal 15 agustus 2018 bertempat di hotel Borobudur Jakarta,” tuturnya.

Hasil dari konser itu akan di gunakan untuk membantu teman-teman kami, yang saat ini kondisinya sangat membutuhkan bantuan. (Thur/Min)

Jika ada pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan silahkan menggunakan Hak Koreksi & Hak Jawab Via Email : redaksi@sigap88.com atau WA 0838 3025 3823 dan Telp 081 249 484 666 Sesuai UU No. 40/1999 Pasal 5 Tentang PERS