Pro kontra Festival Batik Sumenep Perlu Pendewasaan

0
148
Syamsuri,SH ketua PWRI DPC Sumenep

Sumenep – Dari sekian banyak penilaian terkait dengan Festival batik yang di selenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep dipanitiai dari PU Bina marga pada (9/ 12) lalu sempat mendapat tanggapan dari berbagai pihak.

Pro kontra yang di lontarkan oleh beberapa ormas, budayawan, politikus, dan beberapa peneliti budaya berkomentar tentang pagelaran Festival batik.

Sebuah peradaban seringkali terkikis oleh perputaran zaman dan modernisasi sehingga perubahan tersebut harus di lakukan atau dengan sendirinya akan menguasai peradaban yang sudah berjalan turun temurun.

Sehingga tanpa di sadari juga perubahan akan muncul dengan sendirinya tanpa harus di paksakan.

Namun sangat perlu di ingat bahwa peradaban itu perlu di pertahankan karena perubahan itu tidak harus meninggalkan apa yang telah menjadi kultur di wilayah tersebut.

“Tuntutan zaman dan tuntutan profesi memang harus selalu ada perubahan namun dalam hal ini sangat perlu peninjauan bagaimana budaya yang ada di wilayah harus di junjung “, ungkap Syamsuri, SH Ketua DPC PWRI Sumenep.

Bentuk perubahan sosial di karenakan bergulirnya modernisasi sehingga kita harus extra berhati hati untuk menyaring agar tidak mengikis beradaban budaya yang menjadi kultur dalam.suatu wilayah seperti Sumenep.sendiri.

Karena tidak seharusnya Sumenep.yang akan memprogramkan dan mempromosikan tahun kunjumgan Visit Sumenep 2018.harus merubah tatanan budaya yang ada di Sumenep.

Justru bagaimana budaya Sumenep harus di pertahankan seiring derasnya arus modernisasi yang akan masuk ke wilayah Sumenep yang semakin hari dan tahun kemajuannya semakin pesat, papar Syamsuri.

“Dengan hal ini perlu pendewasaan untuk mengkaji semua yang masuk ke wilayah Sumenep.dengan tidak meninggalkan budaya asli Sumenep, dan juga tidak mengindahkan derasnya arus modernisasi”, imbuhnya. (Koes)

Komentar
Content Protection by DMCA.com