Outlook Pariwisata Kota Malang 2019

0
302

Oleh : Satriya Nugraha, S.P.

Malang,Sigap88-Dalam Indonesia Tourism Outlook 2019 Deregulation In Cyber Tourism Era, seminar yang diselenggarakan Forum Wartawan Kementerian Pariwisata (Forwapar) di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (27/11/2018) Menteri Pariwisata Arief Yahya menitikberatkan tentang turis milenial. Sebab, kini perkembangan turis milenial cukup besar. “57 Persen, Asia itu dikuasi anak-anak seusia milenial dari umur 15-35 tahun. Bahkan, turis yang datang ke Indonesia itu 50 persennya adalah milenial,” katanya. Arief Yahya menjelaskan, turis milenial tak lepas dari sosial media. Termasuk untuk mencari referensi dan juga tempatnya untuk eksistensi diri.

“70 Persen para milenial, menghabiskan waktu di sosial media. Begitu juga untuk pariwisata, mereka mencari booking hotel dan pesawat di internet dan menggunakan sosial media untuk berfoto-foto. Makanan saja difoto,” papar Arif Yahya. “Maka itu, kita menyiapkan 54 Destinasi Digital di tahun 2018 ini. Destinasi Digital itu yakni ada produk wisatanya, lalu Instagramable atau cantik difoto dan kemudian menjadi viral sebagai destinasi,” tambahnya. Selain itu, Arief Yahya juga menjelaskan kalau turis milenial sangat suka bertualang ke tempat baru. Lalu, mereka menjadi yang pertama datang dan foto-foto.”Kalau dari sekarang kita tidak memperhatikan turis milenial, maka pariwisata Indonesia akan kalah di masa depan,” mennurut penjelasan Arief Yahya.
Berdasarkan latar belakang pemikiran Bapak Menteri Pariwisata RI yang tersebut di atas maka penulis berupaya menyampaikan pemikiran Outlook Pariwisata Kota Malang 2019. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni menerangkan kalau sektor pariwisata memberikan pemasukan sebanyak 25,56 persen terhadap PAD Kota Malang. Pada 2017, sektor pariwisata menyumbang sekitar Rp 106 miliar. “Nah kalau 2018 ini belum. Tetapi dari sisi retribusi tentang penggunaan lahan Wisata Tugu dan Gedung Kesenian Gajayana sekitar Rp 200 juta,” terang Ida, Senin (12/11/2018).
Jika dipersentasekan angkanya adalah 19,27 persen. Ida menjelaskan, setiap tahun angkanya selalu meningkat seiring terbukanya tujuan wisata baru di Kota Malang. “Tahun 2018 progressnya kalau saya lihat bagus. Optimistis capaian tahun ini akan lebih dari tahun sebelumnya,” tegas Ida Ayu. Sektor pariwisata yang paling banyak memberikan sumbangsih adalah pada hotel dan kuliner. Selain itu, Bapak Walikota Malang menjelaskan The Future of Malang city, sebagai berikut :

FUTURE OF MALANG CITY 2019-2024

Pertama, Kota Malang sebagai Heritage City, Kota Malang sebagai kota sejarah dan cagar budaya. Kadisbudpar Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni mengatakan bahwa kini sudah banyak komunitas yg menyuarakan supaya Malang menjadi Kota Heritage, hal tersebut selaras dengan salah satu misi Walikota Malang. Terkait hal tersebut, sudah terdapat undang undang nomor 10 tentang cagar budaya dan peraturan daerah kota malang yang mengatur terkait cagar budaya. Diharapkan di tahun 2019 nanti juga akan ditetapkan perwali kota malang mengenai cagar budaya. Kota Malang pernah menjadi contoh bagi masyarakat luar sebagai kota bersejarah. Selain itu, Malang sebagai Kota Heritage juga dapat dijadikan sebagai destinasi wisata. Untuk mewujudkan hal tersebut, beberapa hal harus dipersiapkan, seperti membangun infrastruktur penunjang.
Cagar budaya Kota Malang menjadi aset daerah yang sangat besar potensinya. Sebab menjadikan sebuah daerah memiliki ciri khas. Khusus Kota Malang, potensi pengembangan kawasan wisata cagar budaya, jauh lebih besar daripada daerah lain. Di mana kuncinya ada di peran media juga. Media menjadi salah satu kunci kekuatan kawasan heritage (cagar budaya) Kota Malang dapat berkembang. Penggiat dan pembuat kebijakan berkaitan pengembangan kawasan heritage harus memanfaatkannya. “Manfaatkan media untuk kepentingan heritage” . Jika tidak dimanfaatkan, apa yang dilakukan pegiat-pegiat budaya maupun kebijakan yang dilakukan pemerintah akan jalan di tempat. Menurut penulis, media akan menyebar luaskan konsep pengembangan heritage kepada masyarakat lebih banyak. Jika banyak yang mengetahui, dukungan pun akan datang lebih banyak.
Kedua, Kota Malang sebagai salah Kota Ekonomi Kreatif Indonesia. Wali Kota Malang, Sutiaji mengatakan saat ini industri ekonomi kreatif Kota Malang sudah naik kelas. Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa forum ekonomi kreatif, bahkan diprediksi pertumbuhannya akan signifikan. Pemkot Malang sendiri saat ini terus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif khususnya yang berbasis informasi teknologi. Salah satunya dengan lahirnya Malang Creative Fusion (MCF) serta beberapa sub sektor ekonomi kreatif lainnya. Bahkan, saat ini Pemkot Malang juga tengah menyiapkan feasibility study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) untuk pembangunan “Rumah Kreatif” yang rencananya akan dibangun di atas tanah eks PDAM kawasan Kecamatan Blimbing.

Kota Kreatif = Memberdayakan Kampung Tematik Kota Malang
Pengembangan Kampung Tematik salah satu Ikhtiar inovasi pemberdayaan masyarakat untuk mengooptimalkan potensi lokal kampung di Kota Malang. Melalui alokasi Dana Kelurahan sebesar 2,22 % dari total APBD Kota Malang. Menurut penetapan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, terdapat 17 kampung tematik yang sudah berjalan dan bisa mendatangkan jumlah wisatawan ke Kota Malang, antara lain : kampung warna warni jodipan, kampung wisata sanan keripik tempe, kampung glintung go green purwantoro, kampung budaya polowijen, kampung biru arema malang kidul dalem, kampung putih, kampung batik celaket, kampung keramat kasin, kampung wisata lampion Jodipan dan masih banyak lagi.
Di sisi lain, Sutiaji menjelaskan bahwa pangsa pasar ekonomi kreatif pada era digital dan informasi saat ini bukan skala lokal, regional dan nasional saja, namun sudah merambah pasar internasional. Sehingga kesempatan ini harus diambil oleh para stake holder terkait termasuk di dalamnya para pegiat ekonomi kreatif. Pemerintah memiliki 2 peran dalam hal mewujudkan Kota Ekonomi Kreatif, yaitu: Sebagai fasilitator dalam berbagai program dan berkaitan dengan subsektor aplikasi dan game (Wokrshop & Hackaton. Menyiapkan Rencana Strategi dalam Roadmap Pengembangan Ekonomi Kreatif terutama sub sektor aplikasi dan game, kuliner, penerbitan di Kota Malang. Di Kota Malang, terdapat banyak komunitas sub sektor aplikasi dan game seperti STASION (Startup Singo Edan), GDM (Game Developer Malang), PHP Malang, Komunitas Frontend, Indux, Kelas Mobile dan lain-lain.

Juga terdapat Komunitas Blogger Kompasiana Malang, Komunitas Rumah Pengusaha Malang Raya, Komunitas Local Guides, Komunitas Himpunan Pengusaha Nahdliyin Malang Raya dan sebagainya. Untuk kreativitas, menurut Sutiaji Walikota menyampaikan bahwa Kota Malang tidak kalah dengan kota lain, seperti halnya Bandung dan Yogyakarta. “Bahkan Kota Malang bisa dibilang lebih unggul,” ujar beliau. Wali Kota Malang Sutiaji pun memberikan tantangan untuk kemajuan kreativitas kaum muda ini. “Teruslah berkreasi, dan buktikan jika Kota Malang memiliki keunggulan dan patut diperhitungkan hingga di tingkat internasional,” ucapnya memberikan semangat.Lebih jauh pria berkacamata itu menyampaikan jika Pemkot Malang akan memberikan dukungan sepenuhnya untuk tumbuh kembangnya ekonomi kreatif.

Ketiga Kota Malang sebagai salah satu Kota Revolusi Industri 4.0. Satu lagi prestasi ditorehkan oleh Kota Malang. Kali ini iNews TV memberikan apresiasi kepada Kota Malang melalui ajang Indonesia Award 2018 atas prestasinya dalam pembangunan di bidang ekonomi kreatif. Penghargaan atas apresiasi suksesnya pembangunan kreatif di Kota Malang, khusunya pembangunan kreatif berbasis aplikasi digital itu diterima langsung oleh Wali Kota Malang. Banyaknya animator-animator serta pelaku industri aplikasi digital, baik games atau internet di Kota Malang telah sukses menghantarkan Kota Malang meraih prestasi tersebut. Banyaknya pelaku industri kreatif digital yang ada di Kota Malang juga turut mendorong suburnya perkembangan industri ekonomi kreatif di Kota Malang. Menurut Sutiaji, Malang adalah Kota Milenial. Dimana industri kreatif digital menjadi sangat menarik di era revolusi industri 4.0 seperti saat ini.

Keempat, Kota Malang sebagai Kota Pelayanan Publik Prima (Malang Services). Pada bulan Februari hingga April 2018, untuk ke-enam kalinya, MarkPlus, Inc. kembali menyelenggarakan acara festival marketing berskala nasional di 17 kota utama Indonesia yaitu Indonesia Marketeers Festival 2018 (IMF 2018). Acara ini diselenggarakan selama 2 hari penuh dengan menghadirkan para pembicara yang mewakili local champions di setiap daerah, baik dari kalangan perusahaan swasta, BUMN, maupun BUMD. Pada kesempatan tersebut, Kota Malang dalam hal ini, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, PDAM Kota Malang serta Kelurahan Sawojajar telah berhasil meraih Penghargaan Public Service Of The Year Provinsi Jawa Timur 2018 yang diserahkan pada hari Selasa (24/4/2018) di Ballroom Shangri-la Hotel Surabaya. Hal ini membuktikan prestasi Kota Malang dalam pelayanan publik prima kepada masyarakat Kota Malang. Wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang, tidak perlu khawatir terhadap pelayanan publik di Kota Malang jelang tahun 2019.

Kelima, Kota Malang sebagai Kota Wisata Halal. Pemerintah Kota Malang siap menjadikan daerahnya menjadi salah satu destinasi wisata halal di Indonesia. Dengan penetapan ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Malang. Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan saat ini dalam tahap persiapan akhir untuk beberapa sektor antara lain kampung tematik, kuliner dan perhotelan. Setelah itu siap mendeklarasikan Kota Malang sebagai destinasi wisata halal.
Alhamdulillah, “Pada 22 Oktober 2018, sekaligus Memperingati Hari Santri Nasional maka Kota Malang telah mendeklarasikan bahwa Malang menjadi destinasi wisata halal dunia,” ujar Sutiaji. Menurut Sutiaji, untuk sektor kuliner halal, pengembangan yang akan dilakukan Pemerintah Kota Malang adalah kuliner vegetarian. Pemilihan menu vegetarian atau tanpa daging tersebut, menjamin halalnya produk yang akan dijual untuk wisatawan yang mencari produk halal. “Untuk hotel halal, bukan syar’i. Hotel halal itu ada arah Kiblat di setiap kamar, tersedia Alquran. Sementara untuk kuliner, nanti vegetarian yang halal, aman, dan sehat,” ujar Sutiaji. Selain itu, pengembangan wisata halal di Kota Malang juga akan dilakukan untuk pasar tradisional, dan mall pasar belanja modern.
Pemerintah Kota (Pemkot) Malang baru saja mendeklarasikan diri sebagai kota wisata halal. Selanjutnya akan dibentuk tim verifikasi untuk menyertifikasi kehalalan.“Kota Malang ini punya kuliner terbaik dan terenak di Indonesia. Nah, itu hotel-hotel sebagai penopang hadirnya wisman (wisata mancanegara) juga sudah ada yang mendeklarasikan sebagai hotel halal, restoran halal, travel halal, itu menjadi pendukungnya. Kami harap segera mendapatkan predikat itu,” menurut Kadisbudpar Kota Malang, Ida Ayu Wahyuni. Demi mewujudkan Malang Raya sebagai destinasi wisata halal dunia,maka Pemkot Malang menggandeng dua wilayah lain di kawasan Malang Raya, Kabupaten Malang dan Kota Batu.

Bismillah Malang Halal Bermartabat

Terakhir Kota Malang, sebagai Kota Nyaman bagi warga Kota Malang maupun bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang. Siapa tidak kenal dengan keelokan Kota Malang. Kota berpenduduk 848.474 jiwa, 1 juta jiwa pada siang hari, tersebut secara geografis sudah menawan sejak diciptakan. Kota ini layaknya cawan berharga yang dipagari jajaran tinggi Gunung Semeru di sisi timur, Gunung Kawi di sisi barat, Gunung Arjuno, dan Gunung Welirang di sisi utara. Letaknya di daerah pegunungan menjadikan suhu udara di Malang lebih dingin dibandingkan kota-kota lain di Jawa Timur. Tahun 1980-an, suhu udara di Kota Malang rata-rata 17 derajat celsius. Taman-taman dibangun di sejumlah wilayah. Kota seluas 110 kilometer persegi ini pun oleh arsitek Belanda Herman Thomas Karsten (1884-1945) disebut kota taman. Keelokan dan kesejukannya itu membuat Belanda jatuh hati sehingga menjadikan Malang sebagai kota peristirahatan dan kota nyaman.
Tidak ingin keelokan Kota Malang kian rusak, Pemerintah Kota Malang secara perlahan berusaha merevitalisasi dan menambah ruang terbuka. Dibangunlah sejumlah taman kota dan trotoar mulai diperbaiki. Taman Merjosari, Taman Merbabu, Taman Trunojoyo, Taman Kunang-Kunang Jalan Jakarta, dan Taman Mojolangu, semua dibangun untuk itu. Taman-taman tersebut tidak sekadar bernilai estetis, tetapi juga menjadi ”hidup”. ”Hidup” karena taman tidak sekadar dapat dipandang, tetapi juga dapat menjadi wadah berkegiatan. Masyarakat menjadi nyaman tinggal di kota malang.
Menjadi tempat bermain anak, tempat kumpul keluarga, hingga tempat beragam komunitas berkegiatan. Pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini menguasai trotoar dan taman pun mulai digeser. Bangku-bangku taman disiapkan di beberapa ruas jalan. Kota Malang sebenarnya adalah kota nyaman untuk tinggal. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan fasilitas umum seperti taman, trotoar, dan sarana lain, itu harus dijaga. Pedagang kaki lima pun ditata agar tidak mengganggu hak warga lain dalam menggunakan trotoar, misalnya. Jangan sampai kenyamanan kota ini hilang karena egoisme dan pola pikir masyarakat tradisional, yang hanya berpikir untung sendiri tanpa memedulikan hak orang lain.

Demikianlah sekelumit Outlook Pariwisata Kota Malang tahun 2019, semoga bisa menjadi referensi bagi pelaku usaha, masyarakat luar negeri, masyarakat Indonesia sebelum berkunjung ke Kota Malang tahun 2019 mendatang. Semoga pendapatan asli daerah Kota Malang bisa semakin bertambah dan Kota Malang bisa dikenal luas di Indonesia dan menjadi salah satu destinasi pariwisata dunia.

sigap88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE