Memudarnya Optimisme terhadap Politik

0
4423

Ditulis oleh : Agung Kresna Bayu-Mahasiswa Sosiologi UGM

Jogjakarta, Sigap88 – Memudarnya Optimisme terhadap Politik terhitung dua bulan dari sekarang, Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum. Berbeda dari pemilihan umum sebelumnya, tahun ini menjadi tonggak sejarah penyelenggaraan pemilahan umum secara serentak, dimana masyarakat bukan hanya memilih anggota legislatif melainkan Presiden dan Wakil Presiden. Gegap gempita “pesta” demokrasi tersebut sudah terasa, pasca dilangsungkannya debat Presiden pertama oleh KPU pada 17 Januari 2019 kedua calon presiden dan wakil presiden melakukan safari untuk mendapatkan dukungan masyarakat.

Akan tetapi terdapat sebuah pertanyaan reflektif, bahwa kepercayaan publik terhadap pemerintahan mengalami penurunan atau cenderung bersifat apolitis, mengapa ini terjadi?.

Politik ibarat momok bagi masyarakat dengan tipu muslihat dan rahasia umum penyataan “dari kawan bisa menjadi lawan”, belum lagi soal korupsi yang lekat dengan dunia politik. Untuk mengurangi permasalahan sifat apolitis masyarakat diperlukan refleksi kembali memahami politik.

Pandangan patologis masyarakat terhadap politik disebabkan oleh aktor-aktor politik yang mempertunjukkan perilaku menyimpang, namun hal ini terjadi bukan semata karena kesalahan aktor. Saat kita mengurai lebih jauh, aktor tersebut menjadi bagian dari partai politik, sehingga mereka tidak bersifat tunggal melainkan merepresentasikan berbagai kelompok dan kepentingan yang ada dibaliknya. Partai politik sendiri menjadi bagian dari sistem kepartaian dalam demokrasi.

Demokrasi sendiri dipahami sebagai sistem kedaulatan rakyat, namun saat ini yang terjadi justru mengatasnamakan “rakyat” demi kepentingan golongan atau kelompoknya. Membahas terkait pendidikan politik bagi masyarakat adalah bagian yang tidak kalah penting, mengapa sifat ketidakpercayaan tersebut dapat muncul?. Hal ini disebabkan terjadinya paradoks sikap yang ditunjukkan oleh “wakil” rakyat, dimana saat kampanye dan membutuhkan dukungan mereka menabur “janji” dan melupakannya saat sudah terpilih.

Tilikan ini juga menjadi penanda kemunculan elit populis dan transfromasi hubungan patron-client dalam politik akhir-akhir ini, dimana mereka seolah menjadi bagian masayrakat dan anti terhadap dominasi serta ketidakadilan. Hal ini menyebabkan langgennya budaya politik uang atau ‘”serangan fajar” yang telah menjadi rahasia umum di masyarakat.

Sikap apatis terhadap politik muncul karena berbagai diskursus yang melatarbelakanginya. Namun, masyarakat sendiri harus berani berposisi bukan menghindari dan memilih golput. Hal ini yangmenjadi permasalahan akut di Indonesia, saat mereka yang diuntungkan dari salah satu rezim penguasa maka akan mendukung status quo namun saat tidak mendapatkannya memproduksi sebagai pihak oposisi.

Terjadinya krisis sejatinya dapat dimaknai sebagai momen, bagaimana konflik adalah bagian dari kehidupan serta tidak dapat kita menolaknya. Akan tetapi, bagaimana kita dapat mengolah konflik, sehingga bermakna bukan transisinamun transformasi. Apatisnya publik terhadap politik juga didukung media, baik online maupun offline yang cenderung memberitakan politik berbasis aktor dan produksi kawan-lawan. Selain itu, saat ini kebanyakan berita yang dipublikasikan cenderung mengarah pada wacana sentimen dan sisi gelap dunia politik. Hal tersebut tidaklah salah, namun ada baiknya juga memberikan pemahaman sisi lain politik secara berimbang sehingga membentuk literasi yang bagus bagi masyarakat.
Dengan demikian, untuk mengatasi hal ini diperlukan pendekatan multi sektor dan transdisiplin. Bukan menjustifikasi dalam koridori salah dan benar serta melanggenkan diskursus oposisi biner melainkan berusaha memahami politik secara substantif dan praktis.(*)

sigap88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE