Membuka Cakrawala Memahami Pernikahan

0
1981

Agung Kresna Bayu—Penulis Skripsi “Merajut Indonesia dari Cinta Beda Agama”

Yogyakarta – Sigap88 Pernikahan salah satu pasangan di Lampung pada Januari 2019 menyorot perhatian publik. Hal ini karena mas kawin atau mahar dalam pernikahan tersebut adalah segelas es cendol. Kejadian serupa pernah terjadi juga di Kebumen pada Desember 2018, dimana mahar pernikahannya berupa sepasang sandal jepit. Namun sebelum membahasnya secara luas, perlu memahami pengertian dasar tentang pernikahan, sebab seringkali terjadi silang kaprah penggunaan kata antara nikah dan kawin. Dalam hal ini, sering ditemukan pembahasan bahwa nikah berhubungan dengan urusan administrasi sedangkan kawin dengan urusan seks. Sebagaimana ungkapan bahwa nikah perlu surat sedangkan kawin perlu urat, nikah pakai resepsi kawin pakai konstrasepsi. Merujuk UU No 1 tahun 1974 pasa 1 menyebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami-istri untuk membentuk keluarga bahagia dan kekal berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, namun dibalik itu semua, bagimana mengartikan dan memahami pernikahan?

Seringkali banyak orang mengungkapkan bahwa bentuk murni jalinan cinta adalah menikah, serta ada tiga urusan—jodoh, rezeki, kematian—yang menjadi kuasa Tuhan. Akan tetapi diluar tiga misteri Tuhan tersebut, orang Jawa juga memiliki tiga rumus—bibit, bobot, bebet—yang menjadi patokan melangsungkan pernikahan. Di sisi lain, sebagian orang percaya bahwa menikah adalah jodoh, namun saat menggunakan tiga rumus di atas bukankah menikah adalah pilihan? atau pemaknaan oleh sebagian lainnya yang menyatakan bahwa pernikahan adalah sarana pengumuman kepada masyarakat jika sepasang kekasih telah resmi menjadi suami-istri?

Mengurai pernikahan terdapat berbagai aspek yang melatarbelakanginya, bukan hanya soal pengumuman atau jodoh yang telah bertemu. Di balik pernikahan terdapat negosiasi dari dua individu yang menjadi representasi dari banyak kelompok, meliputi keluarga, pendidikan, profesi, dll. Apa artinya?, pernikahan memiliki hubungan dengan aspek-aspek sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Jika membaca sejarah kerajaan Nusantara, terdapat banyak cerita tentang upaya penaklukan wilayah oleh sebuah kerajaan melalui politik pernikahan, semisal perang bubat yang menjadi legenda retaknya hubungan antara kerajaan Majapahit dan Sunda. Pada sisi lain terdapat harmonisasi pernikahan sebagai upaya menyatukan perbedaan, kisah pernikahan antara Rakai Pikatan dan Pramodhawardani yang menikah beda agama dan tersimbolkan melalui dibangunnya candi Plaosan adalah catatan sejarah tentang pernikahan politik kerajaan Mataram.

PT Banner BaitiSholawat

Cerita-cerita tersebut menegaskan bahwa terdapat kepentingan dibalik pernikahan, negosiasi antara dua individu yang akan menikah juga mewakili kelompok-kelompok dibaliknya. Jejak kehidupan antara dua individu yang dibentuk oleh kelompoknya masing-masing berusaha dinegosiasikan dalam arena pernikahan. Oleh karenanya seringkali dalam cerita pewayangan membahas pernikahan identik dengan tokoh Arjuna, ini bukan memaknai Arjuna sebagai tokoh yang memiliki banyak istri melainkan hakikat pernikahan adalah mampu menyatukan beragamnya unsur-unsur kehidupan tersebut.

Persolan mahar di atas, dapat dibaca sebagai “tanda”. Sebab banyak daerah-daerah di Indonesia dengan kebudayaan yang telah turun-temurun memaknai mahar saat ini sebagai bentuk ‘’kelas’’ sosialnya. Hakikat dasar atau spirit dari mahar pernikahan adalah ‘’tanda’’ cinta kasih, namun saat berhubungan dengan ‘’kelas’’ dan ‘’status’’ pada titik itulah dapat menjadi luka.

Dengan demikian, persoalan pernikahan adalah arena yang berkelindang dengan berbagai aspek dan unsur kehidupan. Pernikahan bukan bermakna hanya sebatas pengumuman melainkan dibalik pengumuman itu terdapat negosiasi yang cukup panjang. Memaknai pernikahan juga tidak hanya terkait catatan “sah”-nya tetapi hingga berujung pada penacatatan legal tersebut bagaimana relasi kuasa masing-masing individu bekerja dan bertemu pada saat memutuskan untuk melangkah membentuk keluarga baru. Oleh karenaya pernikahan adalah arena yang dapat dimasuki berbagai kepentingan, baik berupa kepentingan ekonomi, politik, sosial, maupun budaya.(*)

sigap88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE