Kemenangan Salwa Arifin-Irwan Bactiar dan Perilaku Pemilih Warga Bondowoso

0
321

Bondowoso, SIGAP88 – Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak Tahun 2018 di seluruh Indonesia selesai dilakukan, di Kabupaten Bondowoso khususnya pelaksanaan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso banyak mendapatkan sorotan dan pandangan dari berbagai pihak.

Salah satunya dari M. Muhlisin Al-Ayubi selaku Pemerhati masalah Opini Publik, Sosial dan Politik sekaligus Peneliti Lembaga Survei Indonesia Area Jawa Timur yang mengirimkan Tulisannya kepada Redaksi SIGAP88.

“Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak Tahun 2018 di seluruh Indonesia selesai dilakukan, namun masalah demokrasi tidak selesai ketika muncul pemimpin baru. Harapan substantif pesta demokrasi adalah perubahan segala aspek menjadi lebih baik. Semangat ini diharapkan menjadi sumber inspirasi semua yang terpilih sebagai kepala daerah, termasuk Kabupaten Bondowoso yang notabenya masuk kategori kabupaten/daerah tertinggal di Jawa Timur”.

“Pasangan SABAR” (Salwa Arifin-Irwan Bactiar), yang sebelumnya tidak diprediksi oleh banyak kalangan, dinyatakan menang atas rivalnya DADA” (Ahmad Dhafir-Hidayat) versi real count KPUD Bondowoso (Jawa Pos, 29 Juni 2018). Selanjutnya, perilaku pemilih warga Bondowoso menjadi menu utama dalam tulisan ini”.

“Salah satu teori untuk memahami perilaku pemilih warga Bondowoso yaitu Bandwagon Effect. Teori ini menjelaskan tentang kecenderungan seseorang untuk mengikuti perilaku, gaya, dan cara berbicara orang lain”.

“Dalam kasus Pilkada Bondowoso, hasil survei yang dirilis seminggu sebelum pemilihan memberi informasi pasangan mana yang berpotensi untuk memenangkan pertarungan”.

“Menurut teori bandwagon effect, pemilih akan cenderung untuk memilih pasangan yang akan menang. Sebaliknya, ada underdog effect yaitu pemilih justru akan menjatuhkan pilihan kepada calon yang dipersepsikan akan kalah. Bandwagon effect tidak nampak pada kasus pilkada Bondowoso, karena hasil survei seminggu sebelumnya menampilkan pasangan “DADA” sebagai pasangan yang menang dengan selisih 22, 7 persen (https://regional.kompas.com/read/2018/06/22/19421811/survei-lsi-pilkada-bondowoso-elektabilitas-ahmad-hidayat-543-persen-salwa)”.

“Sementara hasil penghitungan KPUD Bondowoso, pasangan “SABAR” adalah pemenangnya”.

Harapan adanya efek ikutan dari perilaku pemilih pasangan “DADA” yang dipersepsi akan menang mudah tidak ada. Sebaliknya, justru yang terjadi mengarah ke underdog effect. Apakah underdog effect benar terjadi, hal ini sedikit meragukan karena harus dilakukan uji publik terlebih dahulu. Selebihnya, rilis ini akan memberikan informasi positif atau negatif bagi kedua pasangan calon”.

“Ada beberapa hal mengapa pasangan “SABAR” bisa memenangkan Pilbup Bondowoso, diantaranya :

1. Informasi tentang rilis hasil survei tidak sepenuhnya merata diterima oleh warga Bondowoso, sehingga bandwagon effect atau underdog effect yang diharapkan sulit terjadi.

2. Perbedaan yang jauh antara hasil survei dan hasil penghitungan real count KPUD Bondowoso adalah sesuatu yang biasa terjadi, mengingat perilaku pemilih yang sangat bisa berubah setiap saat. Hasil survei adalah hasil pada saat survei dilakukan, namun pada Hari H pencoblosan warga bisa mengubah pilihan. Siapa yang akan memenangkan ditentukan sejauh mana mobilisasi isu dan massa”.

3. Kepercayaan diri pasangan “DADA” akan menang menjadi sumber petaka yang berakibat tidak dijalankannya beberapa strategi yang seharusnya dilakukan”.

4. Bukan petahana rasa pertahanan yang sejak awal melekat pada pasangan “DADA, menjadi peluang untuk dimainkan oleh tim pemenangan SABAR sehingga menimbulkan efek-efek kejutan”.

5. Semangat perubahan yang didengungkan tim “SABAR” sejalan seiring dengan semangat untuk mengganti rezim pemerintahan sebelumnya yang dianggap gagal membawa Bondowoso beranjak dari salah satu kabupaten tertinggal di Jawa Timur”.

6. Isu-isu korupsi yang belakangan terjadi pada pemerintahan sebelumnya menjadi pembeda dan sangat efektif memengaruhi perilaku pemilih, sehingga terus disuarakan oleh tim pemenangan “SABAR”.

8. Tekanan struktural dan janji-janji tim “DADA” kepada kepala desa tidak sepenuhnya efektif, namun justru sebaliknya hanya menimbulkan ketidaknyamanan. Apalagi tidak semua warga suka kepada kepala desa. Pilihan warga tidak selalu sama dengan pilihan kepala desa”.

9. Nama besar Kiai Salwa Arifin adalah modal terpenting mengapa warga tidak ragu untuk memilihnya. Secara psikologis, dalam benak warga, nama Kiyai Salwa jauh dari isu korupsi dan selama menjabat cenderung tidak memanfaatkan jabatan, sehingga terlihat kontras dengan kepemimpinan Amin sebagai Bupati Bondowoso”.

10. Rilis survei membuat tim pemenangan “SABAR” bergerak semakin senyap, agresif, dan terus mengkonsolidasikan secara masif terutama di daerah atau desa yang warganya tidak suka kepada kepala desa”.

11. Tim pemenangan “SABAR” berhasil memainkan peran sebagai kelompok yang dekat dengan masyarakat kecil, terbukti mereka lebih banyak diam, senyap dan bergerak parsial tetapi masif di semua titik pemilih”.

12. Bagian dari gerakan senyap di antaranya adalah:
12.a. Pemilih “SABAR” ternyata menjadi bagian konvoi tim pemenangan “DADA”, sehingga muncul istilah di antara mereka konvoi palsu dan “munafik”. Hal ini berarti peserta konvoi “DADA” adalah pemilih “SABAR”.

12.b. Pemilih “SABAR” ternyata ikut mengumpulkan sembako dan sarung dari tim pemenangan “DADA” untuk bisa dikembalikan lagi kepada pemilih yang lain”.

12.c. Fenomena pelepasan kembali stiker oleh pemilik sendiri di beberapa titik, seperti warung, pangkalan becak, dan toko merupakan bagian dari operasi senyap”.

Beberapa catatan di atas cukup menarik dan unik, pasangan “DADA” dengan dana yang besar dan berkumpulnya semua kekuatan politik tidak mampu mengalahkan pasangan “SABAR”.

Ada hal yang harus dipahami dari perilaku pemilih Bondowoso yaitu kearifan local (local wisdom) di mana perilaku pemilih memiliki karakter sendiri. Akhirnya, kejelian dalam kristalisasi dan kapitalisasi isu menjadi sangat penting dalam proses pemenangan. Tim pemenangan “SABAR” dalam hal ini mampu mengelola isu dan memilah isu serta mampu mengkapitalisasi secara masif di semua titik pemilih”.

“Informasi hasil survei tentu menjadi sangat penting untuk mengetahui preferensi warga terhadap pilihan politiknya, mengetahui masalah yang paling mendesak menurut warga yang harus segera dilakukan dan terpenting mengetahui peta kekuatan calon. Semua ini dilakukan untuk mengkapitalisasi isu dan pemetaan suara (mapping voters) pada semua persebaran wilayah”.

“Catatan ini tentu tidak datang dengan sendirinya. Semua informasi menjadi sangat penting baik dari hasil diskusi maupun pengamatan langsung di lapangan. Pengamatan yang bersifat subjektivitas-kualitatif adalah bagian kecil dari realitas. Masukan dan kritikan adalah bagian dari cara belajar yang baik dan sangat berarti sebagai refleksi diri menjadi lebih baik”.

“Perubahan Bondowoso ke arah yang lebih baik dan lepas dari daerah tertinggal di Jawa Timur adalah tantangan yang harus diselesaikan oleh SABAR. Pilihan demokrasi adalah pilihan terbaik Bondowoso dan bangsa Indonesia. Selamat atas kemenangan warga Bondowoso dan selamat kepada Kiai Salwa Arifin dan Irwan Bactiar sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso periode 2018-2023.
Salam perubahan”.

Penulis :
M. Muhlisin Al-Ayubi
Pemerhati masalah Opini Publik, Sosial dan Politik
Peneliti Lembaga Survei Indonesia Area Jawa Timur

sigap88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE