Kades Bedali Lawang Diduga Rekayasa Terbitkan AJB

198

Malang, SIGAP88,Timbulnya perselisihan kepemilikan tanah atau yang umum dikenal dengan sengketa tanah, tampaknya bukan hanya karena kekurang fahaman masyarakat akan prosedur juala beli tanah dan prosedur sertifikasi, tetapi juga tidak lepas dari sembrono dan ngawurnya pihak desa sebagai pemerintah yang lebih dekat dengan masyarakat.

Seperti yang terjadi di Dusun Setran, Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang ini. Pihak pembeli dan para ahli waris pemilik tanah sama-sama bersikeras mempertahankan tanah mereka berdasar asal usul masing-masing pihak tentang tanah itu.

Perseteruan terjadi karena para ahli waris pemilik tanah mengetahui telah terbit Akta Jual Beli (AJB) atas tanah peninggalan orang tuanya, sedang dirinya dan saudara-saudaranya tidak pernah merasa menjual tanah yang dimaksud dalam AJB .

Salah satu ahli waris yang berhasil dikonfirmasi tim, Salek (55) mengatakan bahwa dirinya dan saudara-saudaranya tidak pernah menjual maupun menerima uang terkait tanah yang sedang diperebutkannya sekarang. Apalagi terkait nilai jual yang tertulis di dalam AJB sebesar Rp 500.000.000.00 (Lima Ratus Juta Rupiah), Salek membantah keras dan mengatakan bahwa dirinya maupun keluarga yang lainnya tidak pernah menerima uang yang dimaksud.

Terkait penanda tanganan dalam AJB, Salek mengatakan bahwa dirinya dan beberapa saudaranya mau memberikan tanda tangannya karena mereka menganggap Zaenal (pembeli) meminta tanda tangan guna balik nama atas tanah yang memang Salek dan keluarganya jual kepada Zaenal. Tetapi pada kenyataanya, pada AJB yang terbit bukanlah tanah yang dimaksud Salek dan keluarganya, melainkan tanah di sebelahnya dengan ukuran yang lebih luas dari seharusnya.

Di sisi lain, Zaenal yang berhasil ditemui tim mengungkapkan bahwa dirinya membeli tanah dari orang tua Salek dengan harga sekitar Rp 750.000.00 (Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) sekitar 40 – 50 tahun lalu. Istri Zaenal, Marianah (73) menjelaskan bahwa tanah yang tercantum dalam AJB itu adalah hibah dari neneknya yang tak lain adalah istri kedua dari kakek Salek dan keluarganya. Zaenal menjelaskan permasalahan ini timbul saat dirinya mengurus surat kepemilikan tanah dan muncul AJB.

Zaenal menerangkan bahwa dirinya datang ke desa dan menyampaikan keinginannya untuk memperjelas tanah miliknya dengan menjadikannya SHM, namun Salek dan saudara-saudaranya kaget karena tanah yang dimaksud Zaena dalam AJB yang terbit tidaklah sesuai.

Di lapangan sendiri ditemui banyak kejanggalan dalam AJB yang sudah diterbitkan. Kejanggalan pertama adalah jumlah ahli waris yang terdapat dalam AJB tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Kemudian, jika Mariana mengaku bahwa tanah yang tercatat dalam AJB itu adalah hibah dari neneknya, mengapa pihak desa harus memberikan nilai nominal pembelian sebesar Lima Ratus Juta dalam AJB itu.

Zaenal saat ditanya terkait nilai pembelian sebesar Lima Ratus Juta Rupiah dari pihaknya, Zaenal menyangkal akan nilai itu dan mengatakan bahwa nilai yang ada dalam AJB itu adalah “petunjuk” yang diarahkan perangkat desa Bedali. Kemudian terkait penanda-tanganan AJB, Zaenal mengatakan bahwa dirinya oleh pihak Desa Bedali disuruh untuk meminta tanda tangan kepada ahli waris dari pintu ke pintu.

Kepala Desa Bedali, Dewi Buyati yang ditemui di ruang kerjanya, mengatakan bahwa dirinya tidak tahu sama sekali proses hingga terbit AJB ini, karena dirinya sudah menyerahkan segala urusan terkait penerbitan AJB di desanya kepada Sekdes.

“Saya tidak tahu sama sekali tentang AJB itu, semua sudah saya serahkan kepada Sekdes saya dan hanya tinggal tanda tangan saja.” Jelas Dewi kepada tim.

Lebih lanjut saat ditanya penanda tanganan AJB, wanita yang akrab dipanggil Dewi ini mengatakan bahwa dirinya memang tidak pernah bertemu dengan para ahli waris pemilik tanah sebelum akhirnya permasalahan ini muncul.

“Saya memang tidak pernah bertemu dengan para ahli waris, karena saya hanya tanda tangan berkas AJB yang diserahkan oleh Sekdes kepada saya, dan saya bertemu beberapa dari mereka sejak munculnya permasalahan ini” jelas Dewi

Miris melihat pengakuan Dewi sebagai Kepala Desa tentang kinerja yang dilaksanakan selama ini, bagaimanan mungkin dirinya berani menanda tangani Akta Jual Beli tanpa mempertemukan pihak pembeli dan penjual dan hanya berdasarkan keterangan Sekdes saja. Tidak menutup kemungkinan di hari yang akan datang banyak muncul permasalahan yang serupa jika melihat kinerja Kepala Desa beserta para Perangkatnya yang ngawur dalam memproses dan menerbitkan AJB di Desa Bedali.

Sementara itu, Camat Lawang yang menanda-tangani AJB ( tahun 2016)Drs. Ahmad Muwassi Arif belum bisa dikonfirmasi karena sudah berpindah tempat dinas dan nomer ponselnya tidak bisa dihubungi.

Entah langkah apa yang akan diambil oleh pihak desa untuk menyelesaikan perseteruan Salek cs dan Zaenal.(pns/Hd)

Jika ada pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan silahkan menggunakan Hak Koreksi & Hak Jawab Via Email : redaksi@sigap88.com atau WA 0838 3025 3823 dan Telp 081 249 484 666 Sesuai UU No. 40/1999 Pasal 5 Tentang PERS