Amalan Puasa Syawal, Pahalanya Seperti Puasa Setahun Penuh

173

SURABAYA | SIGAP88.COM – Setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh, umat muslim sedunia bersuka cita memasuki datangnya bulan Syawal yang ditandai dengan Hari Raya Idul Fitri. Meski bulan suci sudah berakhir, bukan berarti pintu-pintu kebaikan ikut tertutup.

Kendati demikian, masih ada satu ibadah yang dapat dilaksanakan, yakni puasa Syawal. Puasa Syawal dapat dilaksanakan selama 6 hari di bulan Syawal setelah Hari Raya Idul Fitri.

Berdasarkan kalender Ramadhan 2020 di mana 1 Syawal (Idulfitri) jatuh pada tanggal 24 Mei 2020, jadi bisa ditetapkan bahwa muslim bisa memulai puasa Syawal-nya pada 25 Mei 2020 (sehari setelah Idulfitri).

Adapun jika seorang muslim berpuasa di hari raya Idulfitri (1 Syawal) dan Iduladha (10 Dzulhijjah) maka hukumnya haram. Hadis dari Abu Sa’id al-Khudri:

“Nabi Muhammad Saw. melarang berpuasa pada dua hari raya; Idulfitri dan Iduladha.”

Waktu Berpuasa Syawal

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut ulama Syafi’iyah, puasa enam hari di bulan Syawal disunnahkan berdasarkan hadis di atas. Disunnahkan melakukannya secara berturut-turut di awal Syawal.

Jika tidak berturut-turut atau tidak dilakukan di awal Syawal, maka itu boleh. Seperti itu sudah dinamakan melakukan puasa Syawal sesuai yang dianjurkan dalam hadis. Sunnah ini tidak diperselisihkan di antara ulama Syafi’iyah, begitu pula hal ini menjadi pendapat Imam Ahmad dan Daud.” (Al Majmu’, 6: 276).

Hukum Puasa Syawal

Menjawab perkara tersebut, Sigap88.com menghubungi salah satu ustadz di Majelis Taklim Rotibul Haddad Mbah Panjang Semut Surabaya, Ustadz Habib Hannan, Ustadz Habib Hannan mengatakan, hukum puasa Syawal adalah sunah mustahab. Artinya sesuatu yang telah dikerjakan oleh Nabi Muhammad satu atau dua kali.

Seperti halnya shalat Dhuha atau melakukan pengobatan dengan menggunaan media bekam, mustahab pada hakikatnya adalah perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala, dan apabila tidak dikerjakaan tidak mendapat dosa ataupun siksa. Kendati hukumnya tidak wajib, puasa Syawal terbilang sayang untuk ditinggalkan karena begitu besar keutamaannya.

Beberapa keutamaan dalam melaksanakan puasa Syawal terbilang sangat luar biasa. sebagaimana yang diterangkan dalam hadis Qudsi, Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Setiap amal manusia adalah untuk dirinya kecuali puasa, ia (puasa) adalah untuk-Ku dan Aku memberi ganjaran dengan (amalan puasa itu).” Kemudian, Rasulullah melanjutkan, “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibandingkan wangi minyak kasturi.”

Adapun keutaman yang pertama yakni akan mendapat pahala puasa selama setahun penuh. Hal itu merujuk dari dalil yang sahih: “Barangsiapa yang telah melaksanakan puasa Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan berpuasa selama 6 (enam) hari pada bulan Syawal, maka dia (mendapatkan pahala) sebagaimana orang yang berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim no. 1164).

Ustadz Habib Hannan menjelaskan, pelaksanaan puasa Syawal serupa dengan saat puasa di bulan Ramadhan. “Boleh sahur, berhenti sahur saat waktu imsak,” kata Ustadz Hannan. Adapun perbedaannya, pada saat melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal, boleh dilakukan secara berurutan atau berselang hari yang terpenting masih di bulan Syawal.(Red/mat)

sigap88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE