Ahli Waris Desak BPN Lakukan Pengukuran dan Terbitkan Sertifikat Milik Alm.Djailani

0
134

Pasuruan, Sigap88 – Menindaklanjuti terkait dengan surat kesepakatan dalam sengketa bidang tanah yang terletak di Jl. Pulih Asrib, Desa Warungdowo, Kecamatan Pojhentrek, kabupaten Pasuruan, pihak ahli waris dari Alm. Muhamad Djailani Latif merasa kecewa.

Kekecewaan itu muncul lantaran pihak pihak dari Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Kabupaten Pasuruan, yang sudah menjadi ruang untuk mediasi antara kedua belah pihak, yakni ahli dari Alm. M. Djailani dan Bagiono selaku pembeli, yang masing-masing diwakili oleh kuasa hukumnya, dinilai mengulur ulur waktu.

Pasalnya, masing-masing melalui kuasa hukumnya, Alifah (60) selaku ahli waris atau istri dari almarhum Muhammad Djailani Latif (75) pemilik dan Bagiono selaku pembeli tanah yang terletak di Jl. Pulih Asrib, Desa Warungdowo, Kecamatan Pojhentrek, kabupaten Pasuruan, pada 27 Februari kemaren sudah menandatangani surat kesepakan, dan pihak BPN berjanji akan melakukan pengukuran ulang sesuai dengan pembagian pada sengketa tanah tersebut.

Namun, dikatakan M. Nasrul selaku kuasa hukum dari ahli waris Alm. Djailani mendapat telfon dari kantor BPN bahwa pengukuran yang akan dilakukan oleh BPN, dibatalkan, “Tiba-tiba saya dapat telfon dari kantor BPN tentang pemberitahuan pembatalan pengukuran pada sertifikat nomer 50 a/n M. Djailani Latif,” kata Nasrul, Rabu (6/3/2019).

Dikatakan Nasrul, alasan pembatalan pengukuran bidang tanah oleh BPN itu lantaran menunggu terbitnya sertifikat, “BPN akan melakukan pengukuran setelah diterbitkannya sertifikat,” ungkap Nasrul.

Romy, yang ikut mendapingi Nasrul, mendesak ATR/BPN Kabupaten Pasuruan, agar secepatnya melakukan pengukuran supaya ada kejelasan terkait dengan sertifikat atas nama almarhum Muhammad Djailani Latip dengan nomor 50 yang berlokasi di desa Warungdowo, sehingga kuasa hukum dari Bagiono, Agus Heru Setiawan membuat pernyataan bermaterai bahwa pihaknya berjanji melakukan pengukuran.

Surat pernyataan kesanggupan pengukuran atas tanah oleh Agus Heru Setiawan selaku kuasa hukum Bagiono selaku pembeli

Diketahui sebelumnya bahwa terjadi tumpang tindih terkait dengan penerbitan sertifikat baru milik dari saudara Bagiono yang juga sebagai pembeli dengan sertifikat lama milik dari almarhum Muhammad Djailani Latip.

Sehingga pihak BPN menarik sertifikat milik saudara Bagiono untuk dilakukan evaluasi pengukuran ulang dan penerbitan sertifikat sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

Sementara itu, pihak Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Kabupaten Pasuruan, yang diwakili Ali Mashudin enggan berkomentar terkait hal ini, “Sudah beres mas, sampean langsung ke pak Nasrul aja,” kata Ali Mashudin saat dikonfirmasi lewat What’sApp.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya bahwa sebagian tanah milik dari ahli waris Alifah yang sudah dijual oleh almarhum suaminya semasa hidupnya dengan luas kira kira 650 meter persegi dengan luas keseluruhan kurang lebih 1.425 meter persegi dan selebihnya masih milik ahli waris istri dan juga anak dari almarhum.

“Urus punya urus pihak Bagiono ini telah mengajukan sertifikat ini melalui prona dan letter C nya ikut tanah yang dia miliki, lalu digabungkan dengan tanah yang dia beli dari almarhum Latip,” Ungkap Nasrul.

Setelah dilakukan pengukuran ulang oleh pihak BPN, mediasi dilakukan di kantor PBN yang dihadiri oleh kuasa hukum ke dua belah pihak. Nasrul selaku kuasa hukum dari Alifah dan Agus Heru Setiawan sebagai kuasa hukum Bagiono.

Hari ini, pada 6 Maret 2019, kedua belah pihak melalui kuasa hukumnya masing-masing telah membuat kesepakatan baru tentang hak antara ahli waris dan Bagiono selaku pembeli.

Dalam surat kesepakatan tersebut, 700 meter persegi untuk ahli waris dari Alm. Djailani Latif, 642 meter persegi untuk Bagiono selaku pembeli. Sedangkan sisanya dipotong untuk jalan.(Gun)

sigap88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE